Apa Itu Asesmen dalam Pendidikan

Table of Contents

Guru perlu mengetahui perkembangan belajar siswa sebelum menentukan materi lanjutan atau bentuk pendampingan. Informasi itu dapat diperoleh melalui tugas, tanya jawab, pengamatan, proyek, hingga tes tertulis. Lalu, apa itu asesmen dan mengapa proses ini digunakan di sekolah?

Asesmen membantu guru melihat kemampuan siswa secara lebih utuh. Hasilnya juga dapat menjadi bahan bagi siswa untuk memahami bagian materi yang sudah dikuasai maupun yang masih perlu dipelajari.

Pengertian Apa Itu Asesmen

Asesmen adalah proses mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengetahui kebutuhan, perkembangan, serta capaian belajar siswa. Proses ini dilakukan selama kegiatan belajar, bukan hanya saat ujian akhir. Karena itu, asesmen dapat memakai beragam cara sesuai tujuan pembelajaran.

Menurut Djemari Mardapi dalam buku Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Pendidikan, penilaian merupakan kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran untuk mengambil keputusan pendidikan. Data tersebut dapat berasal dari nilai tes, hasil karya, atau pengamatan guru.

Bedanya asesmen, evaluasi, dan tes

Tes merupakan salah satu alat untuk mengukur kemampuan siswa, misalnya ulangan matematika. Asesmen mencakup proses yang lebih luas karena dapat memakai tes maupun cara lain, seperti diskusi dan portofolio.

Evaluasi menggunakan hasil asesmen untuk menilai keberhasilan pembelajaran. Contohnya, sekolah dapat mengevaluasi apakah metode mengajar tertentu perlu dipertahankan atau diperbaiki.

Perkembangan asesmen di sekolah

Pada praktiknya, asesmen dahulu sering berpusat pada nilai ujian tertulis. Kini, guru juga menilai proses belajar, keterampilan, sikap, dan kemampuan siswa menerapkan materi dalam situasi nyata.

Menurut Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen, asesmen perlu memberi informasi untuk memperbaiki proses pembelajaran. Artinya, nilai tidak berhenti sebagai angka di rapor.

BACA JUGA  Memahami SKBS: Sistem Kerja yang Menentukan Efisiensi di Dunia Industri

Tujuan dan Manfaat Asesmen

Asesmen memberi gambaran yang lebih jelas tentang kondisi belajar di kelas. Guru dapat memakai hasilnya untuk menyesuaikan cara mengajar. Siswa pun memperoleh umpan balik yang lebih terarah.

Tujuan asesmen perlu disesuaikan dengan materi dan kemampuan yang ingin dicapai. Berikut beberapa manfaatnya dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Mengidentifikasi kemampuan awal siswa sebelum memulai materi baru.
  2. Mengetahui kesulitan belajar yang dialami siswa selama pembelajaran.
  3. Memberikan umpan balik agar siswa tahu cara memperbaiki hasil belajarnya.
  4. Membantu guru menyusun pembelajaran yang sesuai kebutuhan kelas.
  5. Menjadi dasar pelaporan capaian belajar kepada siswa dan orang tua.

Manfaat bagi siswa

Asesmen dapat membantu siswa mengenali kemajuan belajarnya secara bertahap. Misalnya, guru memberi komentar pada tulisan siswa agar ia memahami bagian yang perlu diperbaiki, bukan sekadar menerima nilai akhir.

Menurut Suharsimi Arikunto dalam buku Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan, hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik. Informasi ini membantu siswa menyusun langkah belajar berikutnya.

Manfaat bagi guru dan sekolah

Guru dapat melihat materi mana yang belum dipahami banyak siswa. Jika sebagian besar siswa kesulitan, guru bisa mengulang penjelasan dengan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari hari.

Sekolah juga dapat memakai hasil asesmen untuk menyusun program pendampingan. Program ini dapat berupa kelas tambahan, perbaikan pembelajaran, atau pengayaan bagi siswa yang sudah mencapai target.

Jenis Jenis Asesmen Pendidikan

Jenis asesmen dibedakan berdasarkan waktu dan tujuan penggunaannya. Setiap jenis memberi informasi yang berbeda kepada guru. Oleh karena itu, guru perlu memilih bentuk yang sesuai dengan kebutuhan kelas.

Asesmen tidak selalu berbentuk soal pilihan ganda. Hasil karya, presentasi, jurnal belajar, dan pengamatan juga dapat digunakan untuk melihat kemampuan siswa.

BACA JUGA  Apa Itu Notulensi dan Cara Membuatnya Saat Rapat

Asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif

Asesmen diagnostik dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal dan kebutuhan siswa. Asesmen formatif dilakukan selama proses belajar, misalnya melalui pertanyaan singkat setelah guru menjelaskan materi.

Asesmen sumatif dilakukan pada akhir lingkup materi atau akhir semester untuk melihat pencapaian siswa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjelaskan fungsi asesmen formatif dan sumatif dalam Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Asesmen otentik dan penempatan

Asesmen otentik menilai kemampuan siswa melalui tugas yang menyerupai penggunaan pengetahuan di kehidupan nyata. Contohnya, siswa membuat laporan hasil pengamatan lingkungan sekolah dalam pelajaran IPA.

Asesmen penempatan digunakan untuk menentukan posisi atau kelompok belajar yang sesuai bagi siswa. Bentuk ini dapat membantu guru menyiapkan pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang tepat.

Cara Melakukan Asesmen yang Efektif

Asesmen yang baik dimulai dari tujuan pembelajaran yang jelas. Guru juga perlu menentukan bukti belajar yang ingin dikumpulkan. Dengan langkah ini, tugas yang diberikan tidak terasa acak bagi siswa.

Hasil asesmen sebaiknya segera ditindaklanjuti. Umpan balik yang spesifik akan lebih mudah dipahami daripada komentar umum seperti sudah bagus.

Tentukan tujuan dan kriteria penilaian

Guru perlu menetapkan kemampuan yang akan dinilai, misalnya kemampuan menjelaskan ide utama dalam teks. Setelah itu, guru dapat membuat kriteria sederhana agar siswa memahami standar pekerjaan yang diharapkan.

Kriteria tersebut perlu relevan dengan tugas yang diberikan. Jika tugasnya presentasi, guru dapat menilai ketepatan isi, susunan penjelasan, dan kemampuan menjawab pertanyaan.

Gunakan bukti belajar yang beragam

Guru dapat menggabungkan hasil tes, proyek, pengamatan, serta refleksi siswa. Cara ini membantu guru melihat kemampuan siswa dari lebih dari satu sisi.

BACA JUGA  Apa Itu Layoff dan Dampaknya bagi Pekerja

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam modul Panduan Asesmen Diagnostik Berkala, hasil asesmen diagnostik dapat menjadi dasar untuk merancang pembelajaran sesuai kompetensi siswa. Guru kemudian dapat memberi bantuan yang lebih tepat.

Tantangan Penerapan Asesmen di Kelas

Guru sering menghadapi jumlah siswa yang banyak dan waktu penilaian yang terbatas. Kondisi ini membuat penilaian tugas satu per satu terasa berat. Meski begitu, asesmen tetap dapat dibuat lebih praktis dengan perencanaan yang sederhana.

Rubrik penilaian, catatan pengamatan singkat, dan tugas yang terukur dapat membantu guru mengelola prosesnya. Apa itu asesmen pada akhirnya dapat dipahami sebagai cara membaca proses belajar siswa agar pembelajaran berikutnya lebih tepat.

Kurangi beban penilaian yang tidak perlu

Guru tidak harus menilai semua aspek dalam satu tugas. Pilih dua atau tiga aspek yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran agar penilaian tetap fokus dan realistis.

Guru juga dapat memakai format catatan yang sama untuk beberapa pertemuan. Cara ini memudahkan pencatatan perkembangan siswa tanpa mengurangi kualitas informasi.

Berikan umpan balik yang dapat dilakukan siswa

Umpan balik perlu menyebutkan bagian yang sudah baik dan langkah perbaikannya. Contohnya, guru dapat meminta siswa menambahkan sumber data pada laporan agar penjelasannya lebih kuat.

Dengan pendekatan ini, asesmen terasa lebih berguna bagi siswa. Mereka dapat langsung menggunakan masukan guru untuk memperbaiki proses belajar berikutnya.