Uang yang diterima dari gaji, hasil jualan, sewa rumah, hingga bunga simpanan dapat disebut sebagai income. Besarnya income ikut menentukan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan, menabung, dan membayar kewajiban. Karena itu, memahami asal serta cara mengelolanya membantu kondisi keuangan terasa lebih terarah.
Apa itu income sering diterjemahkan sebagai penghasilan atau pendapatan. Istilah ini dipakai dalam percakapan sehari-hari, pencatatan keuangan pribadi, dunia usaha, serta perpajakan.
Apa Itu Income dalam Keuangan?
Income adalah seluruh penerimaan yang menambah kemampuan ekonomi seseorang atau usaha dalam periode tertentu. Penerimaan tersebut dapat berbentuk uang, barang, atau manfaat ekonomi lain yang bisa dinilai. Dalam penggunaan sehari-hari, income umumnya merujuk pada uang yang masuk ke rekening atau kas.
Dalam aturan pajak, cakupan penghasilan dapat lebih luas daripada gaji bulanan. Sumbernya dapat berasal dari pekerjaan, kegiatan usaha, investasi, maupun pemanfaatan aset. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengenali jenis income yang diterimanya.
Income sebagai Penghasilan
Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. Tambahan tersebut dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak.
Dalam bahasa Indonesia, income dan pendapatan sering digunakan dengan makna yang sama. Namun, dalam laporan keuangan usaha, istilah pendapatan biasanya dipakai untuk mencatat hasil utama dari kegiatan bisnis.
Bedakan Income dengan Uang Pinjaman
Uang pinjaman memang menambah saldo sementara, tetapi tidak dapat dianggap sebagai income. Dana tersebut harus dikembalikan sesuai kesepakatan dan biasanya disertai bunga atau biaya tertentu.
Contohnya, karyawan menerima gaji Rp5 juta per bulan dan meminjam Rp2 juta kepada temannya. Income bulanannya tetap Rp5 juta, sedangkan Rp2 juta merupakan utang.
Jenis Income yang Sering Ditemui
Income dapat dibedakan berdasarkan cara seseorang memperolehnya. Pembagian ini memudahkan seseorang melihat seberapa besar penghasilan yang bergantung pada waktu dan tenaga pribadi. Dengan begitu, rencana keuangan juga bisa disusun lebih realistis.
Dua jenis yang paling sering dibahas adalah income aktif dan income pasif. Keduanya dapat hadir bersamaan dalam keuangan seseorang. Namun, jumlah serta tingkat kepastiannya bisa berbeda.
Income Aktif
Income aktif diperoleh saat seseorang bekerja atau menjalankan usaha secara langsung. Contohnya meliputi gaji karyawan, honor pekerja lepas, upah harian, dan laba dari usaha yang dikelola sendiri.
Jenis penghasilan ini biasanya berhenti atau berkurang ketika kegiatan kerja tidak dilakukan. Seorang pengemudi ojek daring, misalnya, memperoleh pendapatan setelah menyelesaikan perjalanan dengan pelanggan.
Income Pasif
Income pasif adalah penghasilan yang dapat terus diterima tanpa keterlibatan kerja harian secara intensif. Contohnya berupa uang sewa kos, bunga deposito, dividen saham, atau royalti karya.
Namun jangan salah, income pasif tetap membutuhkan modal, aset, keahlian, atau pengelolaan pada tahap awal. Pemilik rumah kontrakan, misalnya, tetap perlu merawat bangunan dan mencari penyewa.
Cara Mengelola Income dengan Bijak
Income yang besar belum tentu membuat keuangan aman jika seluruhnya habis tanpa rencana. Kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran membantu seseorang mengetahui kondisi keuangannya secara nyata. Langkah sederhana ini juga berguna saat ingin menabung atau melunasi utang.
Otoritas Jasa Keuangan melalui modul Perencanaan Keuangan menganjurkan masyarakat menyusun tujuan keuangan, membuat anggaran, serta mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala. Pengelolaan income dapat dimulai dari langkah yang mudah dilakukan di rumah.
Catat Semua Sumber Pemasukan
Catat gaji, hasil usaha, komisi, uang sewa, dan pemasukan lain secara terpisah. Catatan ini membantu membedakan income rutin yang relatif pasti dengan penghasilan tambahan yang jumlahnya berubah-ubah.
Gunakan buku catatan, aplikasi keuangan, atau lembar kerja sederhana. Data tersebut dapat menjadi dasar saat menentukan batas belanja bulanan.
Bagi Income Sesuai Kebutuhan
Setelah mengetahui total pemasukan, bagi dana untuk kebutuhan pokok, tabungan, dana darurat, dan pembayaran utang. Sisakan ruang untuk kebutuhan pribadi agar anggaran tetap nyaman dijalankan.
Jika income tidak tetap, gunakan rata-rata pemasukan beberapa bulan terakhir sebagai patokan. Cara ini membuat pengeluaran tidak melonjak saat menerima pendapatan lebih besar dari biasanya.






